Ma'asyiral
muslimin Rahimakumullah
Pertama-tama
Marilah kita bersama meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah swt. dengan
sesungguh hati tanpa basa-basi. Karena kesungguhan dalam bertaqwa akan
berimplikasi dalam sikap laku ta'at terhadap syari'at dan menghindar dari
ma'siat. Sesungguhnya syariat bawaan rasul Muhammad adalah kebenaran mutlaq
yang tidak bisa diragukan lagi. Shalat, zakat, puasa dan haji menjadi bukti nyata
ketaatan seseorang dalam ber-Islam.
Hadirin
Jama'ah Jum'ah yang dimulayakan Allah
Bulan Rojab
adalah bulan istimewa. sebuah bulan yang yang memuat banyak makna. Makna-makna
itu muncul dari anugerah Allah swt dalam memberikan keistimewaan bagi Rasul
tercinta-Nya Muhammad saw. berupa perjalanan spiritual yang kemudian hari dikenal dalam sejarah umat manusia
sebagai Isro' mi'roj.
Allah SWT
berfirman :
Artinya : “Maha Suci Allah, yang Telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam
dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang Telah kami berkahi
sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda
(kebesaran) kami. Sesungguhnya dia adalah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Momentum peringatan hari-hari
besar Islam seringkali diperingati, namun terkadang karena kurang pada
tempatnya dalam menempatkan posisi akal untuk memahami hal yang bersifat ghaib,
maka seringkali kita akhirnya tidak bisa memetik hikmahnya.Padahal, masalah
keimanan itu selalu berkaitan dengan hal yang ghaib. Allah SWT berfirman
Q.S. Al Baqarah : 2-3 :
Artinya : Kitab (Al Quran) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka
yang bertaqwa. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan
shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang kami anugerahkan kepada mereka.”
Dinamakan sesuatu itu ghaib
manakala tidak bisa direkam oleh indra kita, yang karenanya tidak bisa diolah
oleh akal. Sebab fungsi akal adalah mengolah data-data yang sempat direkam oleh
indra kita. Sesuatu yang tidak bisa dilihat, didengar dan tidak bisa dirasa,
tentu tidak akan bisa dimengerti oleh akal.
Maka dari itu, peristiwa Isra
Mi’raj ini termasuk dalam perkara yang ghaib yang harus diterima oleh keimanan
terlebih dahulu sebelum akal. Ketika peristiwa Isra Mi’raj terjadi, maka pada
saat itu sempat menghebohkan, bahkan sempat pula melahirkan tuduhan orang-orang
musyrikin yang semakin gencar yang menuduh Nabi Muhammad Saw itu adalah orang
gila.
Hal ini juga sempat mempengaruhi
orang-orang Islam pada saat itu. Ketika berita ini sampai kepada Abu Bakar Ash
Shidiq RA dan ummat meminta bagaimana pandangan Beliau, maka hanya satu
pertanyaan yang Beliau ajukan kepada para sahabat, “dari mana kalian mendengar
terjadinya peristiwa ini ? Kata para sahabat, kami mendengar dari Rasulullah
SAW. Lalu Abu Bakar RA mengatakan, kalau dalam hal ini yang mengatakan
Rasulullah SAW, maka dia benar dan kalian tinggal meyakininya saja!”
Adakah yang bisa kita petik
hikmahnya di balik peristiwa Isra Mi’raj ini ? Sebenarnya ada sesuatu yang bisa
kita petik hikmahnya dari peristiwa ini.Paling tidak, ada tiga hal yang bisa
kita petik hikmahnya dari peristiwa ini.
Pertama, masalah keimanan, yakni
menambah keyakinan kita kepada Allah SWT bahwa Allah Mahakuasa atas segala
sesuatu.
Kedua, kita mesti memahami “hasil”
yang dibawa dari perjalanan peristiwa ini adalah diperintahkannya kita
menegakkan shalat fardlu lima waktu. Manakala Allah memerintahkan ibadah lain
selain shalat, maka Allah cukup berfirman kepada Rasulullah SAW baik itu
langsung wahyu atau pun melalui perantara Malaikat Jibril.Tapi, ketika Allah
SWT akan memerintahkan shalat, Rasululah Saw terlebih dahulu harus
di-mi’raj-kan untuk langsung bertemu dengan-Nya dan menerima perintah-Nya. Ini
bermakna betapa pentingnya perintah shalat lima waktu bagi kehidupan kita.Maka
Rasulullah Saw dalam sebuah haditsnya pernah menyatakan, shalat itu adalah
mi’rajnya orang-orang mu’min. Artinya shalat yang kemudian diperintahkan oleh
Allah SWT kepada kita ummat Islam melalui Rasulullah SAW dengan peristiwa Isra
Mi’raj itu dijadikan sarana untuk kita bisa mi’raj sehari lima kali untuk
menghadap Allah SWT.
Ketiga, hendaknya kita semua mesti mau
memperbaiki diri dan berkaca kepada setiap musibah dan bencana yang sering
terjadi. Bukan hanya bencana alam saja yang bisa kita resapi dan kita maknai,
melainkan bencana moral yang telah banyak melenceng dan sungguh telah jauh
berpijak dari rel-rel kehidupan yang baik dan hakiki sesuai syariat Islam.
Semoga ketiga hikmah di atas
menjadi pijakan kita untuk melangkah ke depan yang penuh makna dalam menjalani
sisa-sisa hidup kita yang semakin hari tanpa disadari jatah usia kita semakin
berkurang.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar